KARAKTERISKTIK PESERTA DIDIK
Pengertian Karakteristik Peserta Didik
Seorang guru dalam proses perencanaan pembelajaran perlu memahami
tentang karakteristik dan kemampuan awal peserta didik. Analisis kemampuan awal
peserta didik merupakan kegiatan mengidentifikasi peserta didik dari segi
kebutuhan dan karakteristik untuk menetapkan spesifikasi dan kualifikasi
perubahan perilaku atau tujuan dan materi. Karakteristik peserta didik
didefinisikan sebagai ciri dari kualitas perorangan peserta didik yang ada pada
umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan,
motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, ketrampilan, psikomotorik,
kemampuan kerjasama, serta kemampuan sosial.
Disamping pemahaman karakteristik umum diatas, terdapat juga karakteristik khusus yang disebut dengan non konvesional yang meliputi kelompok minoritas (suku), cacat, serta tingkat kedewasaan. Hal ini berpengaruh pada penggunaan bahasa, penghargaan atau pengakuan, perlakuan khusus, dan metode strategi dalam proses pengajaran.
Karakteristik peserta didik
Ada dua karakteristik kemampuan awal peserta didik yang perlu
dipahami oleh guru yakni:
A.
Latar
belakang akademik
1.
Jumlah
peserta didik
Guru perlu mengetahui beberapa jumlah peserta didik yang akan
diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar.
Pemahaman guru terhadap jumlah peserta didik akan mempengaruhi persiapan guru
dalam menentukan materi, metode, media, waktu yang dibutuhkan, dan evaluasi
pembelajaran yang dilaksanakan. Untuk mengetahui jumlah peserta didik maka guru
dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
2.
Latar
belakang peserta didik
Pemahaman guru terhadap latar belakang peserta didik seperti latar
belakang keluarga, ekonomi, tingkat hobi dan lain sebagainya juga berpengaruh
terhadap proses perumusan perencaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang
latar belakang peserta didik dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh
peserta didik.
3.
Indeks
prestasi
Indeks prestasi peserta didik juga menjadi penting untuk diketahui oleh guru, agar materi yang diberikan sesuai dengan kemampuan:
- Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki.
- Bahkan peserta didik yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama.
- Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasaan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki peserta didik.
Untuk mengetahui indeks prestasi peserta didik dapat iperoleh
melalui nilai raport sebelumnya atau seleksi kemampuan awal peserta didik yang
diselenggarakan oleh lembaga.
4.
Tingkat
intelegensi
Memahami tingkat intelegensi peserta didik juga dapat mengukur dan memprediksi:
- Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi pelajaran.
- Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi.
- Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi peserta didik guru dapat menyusun materi, metode, media, serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap tingkat intelegensi peserta didik. Tingkat intelegensi peserta didik dapat diperoleh melalui tes intelegensi peserta didik atau tes potensi akademik.
5.
Keterampilan
membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki oleh peserta didik dalam
belajar adalah ketrampilan membaca. Ketrampilan membaca adalah menyangkut
tentang kemampuan peserta didik dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat
tentang bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat ketrampilan
membaca peserta didik dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan
bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
6.
Nilai
ujian
Nilai ujian Juga dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami
karakteristik awal peserta didik. Untuk memperoleh nilai ujian peserta didik
perlu dilakukan kemampuan awal peserta didik terhadap mata pelajaran yang diampu
oleh guru yang bersangkutan.
7.
Kebiasaan
belajar/ gaya belajar
Aspek lain yang perlu diperhatikan oleh guru dalam proses
pembelajaran adalah memahami gaya belajar peserta didik atau disebut juga
dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih
disukai oleh peserta didik. Dalam proses pembelajaran, banyak para peserta
didik yang mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan
menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang
berbeda-beda.
8.
Minat
belajar
Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam
memahami karakteristik peserta didik. Hal ini dilakukan agar guru dapat
memprediksi atau melihat tingkat antusias peserta didik terhadap pembelajaran
yang disampaikan. Oleh sebab itu guru perlu melakukan wawancara atau pengisian
angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat
peserta didik terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
9.
Harapan
atau keinginan peserta didik
Harapan atau keinginan peserta didik terhadap mata pelajaran yang
akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami
karakteristik peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta peserta
didik untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka terhadap mata
pelajaran yang akan diberikan, suasana yang diinginkan, serta tujuan yang ingin
diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.
10.
Lapangan
kerja yang diinginkan
Hal ini yang dapat dilakukan dengan pengisian angket. Sehingga
berdasarkan informasi ini seorang guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi
terhadap peserta didik dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan.
Faktor-Faktor Sosial
a.
Usia
Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik
peserta didik. Memahami usia peserta didik akan berpengaruh terhadap pemilihan
pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap
usia kanak-kanak tertentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan
terhadap anak remaja atau dewasa. Dalam praktik pendidikan dikenal dengan
istilah paedagogi dan andragogi.
b.
Kematangan
(maturity)
Kematangan juga dapat diartikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik peserta didik, dimana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia atau kesiapan peserta didik. Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani. Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia, mengarah kepada terjadinya proses kematangan. Kematangan ini mencakup:
- Kematangan pre-natal yakni anak yang berusia 2,5 – 9 tahun akan mengalami kematangan fungsi syaraf serta refleksi untuk menggerakkan tubuh bayi. x Perkembangan vital yakni lahir, menangis, dan tak berdaya tetapi setelah mengalami fase tersebut ketiga aspek diatas dapat berfungsi dan menjadi matang
- Kematangan ingatan yakni 2 ± 3 tahun fungsi ingatan anak mulai berkembang, sehingga telah mampu menerima kesan dan ingatan serta menuju kesempurnaannya pada usia berikutnya.
- Kematangan imajinasi yakni pada anak usia 3 ± 4 tahun anak sudah merasa bahwa dirinya merupakan kepentingan dari orang lain. Bahkan dia telah mulai menyadari bahwa ia dibatasi oleh orang lain. Pada usia berikutnya imajinasi tersebut akan berkembang menuju kematangannya.
- Kematangan pengamatan yakni pada usia 4 ± 6 tahun sudah berkembang fungsi pengamatan untuk mengenal lingkungan sekitar, sehingga pada tahun-tahun berikutnya fungsi-fungsi
- Kematangan intelektual yakni pada anak usia 6 atau 7 tahun anak sudah mulai berfikir secara logi, baik dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan fungsi intelektual anak akan menuju kematangannya sering juga disebut proses pembelajaran yang diperoleh.
Dengan demikian, pemahaman guru terhadap fase-fase perkembangan
atau kematangan psikologis peserta didik dapat membantu guru dalam menentukan
pendekatan pembelajaran peserta didik yang relevan dengan usia kematangan
psikologis peserta didik.
c.
Rentangan
perhatian (attention span)
Rentang perhatian peserta didik adalah jumlah waktu normal peserta
didik dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran. Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Polio tahun 1984 terhadap mahasiswa
menunjukkan bahwa mereka dapat berkonsentrasi penuh sekitar 60 % dari jumlah waktu
yang ada.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa memahami rentang perhatian
peserta didik dalam belajar akan menentukan kualitas informasi yang diperoleh
peserta didik dalam proses belajar.
d.
Bakat-
bakat istimewa
Sebagaimana dipahami bahwa setiap peserta didik memiliki berbagai
macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami
perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.
e.
Hubungan
dengan sesama peserta didik
Hubungan antar peserta didik bisa membantu para guru dalam
mengembangkan pendekatanpendekatan belajar yang bertumpu kepada kerjasama
peserta didik dalam proses belajar.
f.
Keadaan
sosial ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan sosial ekonomi para peserta didik
juga dapat membantu guru dalam menentukan pendekatan dan sumber belajar. Secara
kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar peserta didik mengalami
kendala dalam memenuhi kebutuhan sumber belajar, sebagai akibat dari rendahnya
ekonomi dalam keluarga. Berkenaan dengan hal itu, dibutuhkan kreatifitas guru
dalam membuat atau menentukan sumber belajar dan media yang terjangkau dan
tersedia di lingkungan belajar para peserta didik.
Manfaat Memahami Karakteristik Peserta Didik
Memahami berbagai macam karakteristik awal para peserta didik diatas memiliki beberapa manfaat yakni:
- Memperoleh gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para peserta didik, yang berfungsi sebagai pra syarat bagi bahan baru yang akan disampaikan.
- Memperoleh gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik.
- Mengetahui latar belakang sosial kultural para peserta didik, termasuk latar belakang keluarga, seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi, dan dimensidimensi kehidupan lainnya yang melatar-belakangi perkembangan sosial emosional dan mental mereka.
- Mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, baik jasmaniah maupun rohaniah.
- Untuk menentukan kelas-kelas tingkah laku awal ada tiga jenis alat yang dapat digunakan, yaitu perangkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar, antara yang satu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
- Mengetahui aspirasi dan kebutuhan para peserta didik.
Guru dalam melakukan proses perencanaan pembelajaran perlu memahami tentang karakteristik dan kemampuan awal peserta didik. Pemahaman guru terhadap jumlah peserta didik akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media, waktu yang dibutuhkan, dan evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan. Untuk mengetahui jumlah peserta didik maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik. Pemahaman guru terhadap latar belakang peserta didik seperti latar belakang keluarga, ekonomi, tingkat hobi dan lain sebagainya juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang peserta didik dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh peserta didik.Aspek lain yang perlu diperhatikan oleh guru dalam proses pembelajaran adalah memahami gaya belajar peserta didik atau disebut juga dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai oleh peserta didik.
Dalam proses pembelajaran, banyak para peserta didik yang mengikuti
belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama,
akantetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbedabeda. Lebih lanjut, gaya
belajar atau learning style sering diartikan sebagai karakteristik dan
preferensi atau pilihan peserta didik mengenai cara mengumpulkan informasi,
menafsirkan, mengorganisir, merespon, dan memikirkan informasi tersebut. Keanekaragaman
gaya belajar peserta didik perlu diketahui oleh para guru pada awal belajar.
Sehingga guru memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran
sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran berdasarkan
tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai oleh para peserta
didik.
SUMBER BACAAN :
Anwar, Kasful. 2006. Media, Sumber Belajar dan Pusat Sumber Belajar. IAIN Jambi: Jambi. Makmun.
Syamsudin. 2003. Psikologi Kependidikan: Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Remaja Rosdakarya :Bandung. Suparman, Atwi. 2001. Mengajar di Perguruan Tinggi (Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum. Departemen Pendidikan Nasional.
Zaini, Hisyam. dkk. 2002. Desain Pembelajaran Perguruan Tinggi. IAIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta.
Kemp, 1998. Proses Perancangan Pengajaran. ITB :Bandung.
Soemanto, Wasty. 1983. Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Rineka Cipta: Jakarta.
Komentar
Posting Komentar